Selamat Datang

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2010

Ni`mat, Syukur dan Asa

Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara
Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang panjang terbentang
Masih kudapatkan dan kurasakan
Curahan rahmat dan berbagai ni'mat
Yang kerap Kau berikan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Pantaskah kumemohon diri
Tanpa setetes syukur di samudera rahmat-Mu

Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabatku
Di malah hari kupejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai
Masih kudapatkan dan kurasakan
Keramaian suasana dan ketenangan jiwa
Tapi bila tiba waktu berpisah
Akankah kupergi seorang diri
Tanpa bayang-bayang mereka yang akan menemani

Ketika kulalui jalan-jalan yang berdebu yang selalu mengotori tubuhku
Ketika kuisi masa-masa yang ada dengan segala sesuatu yang tiada arti
Masih bisa kumenghibur diri
Tubuhku kan bersih dan esok kan lebih baik
Tanpa sebersit keraguan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Masih adakah kesempatan bagiku
Tuk membersihkan jiwa dan hatiku

Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan
Setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan
Masih kudengar dan kurasakan
Suara-suara yang menghibur
Tuk menghapus setiap kecewa dan sesal
Tapi bila tiba waktu berpisah
Adakah yang akan menghiburku
Akankah aku pergi tanpa kekecewaan dan penyesalan

Sabtu, 18 April 2009

Sajak Kefuturan

Sahabat tak usah engkau berduka
kepenatanmu dalam mencari ilmu adalah mulia
jika kefuturan itu melanda menjamah jiwa
serahkan semua pada alloh semata

Janganlah hiraukan ketika cinta menggoda jiwa
Begitu juga gelora rindu berkobar di dada
dan terkadang keinginan menikah menyala2
tapi azammu telah mambuncah setia
menepis smua masalah tegari jiwa

tiup...tiuplah kefuturan itu dari benak jiwa
seperti semilirnya angin malam di ufuk son'a
satukan tekad padumu menerjang asa
di hari esok yang semerbak pelangi cinta

sahabat...jangan bimbang akan dirimu
langkahkan kaki semangat selalu
membangun diri membuang ragu
tak kenal lelah selalu maju

biarkan kefuturan itu pergi bersama seonggok memori
biarkan kerinduan itu hilang tersibak sinar mentari
laksana mega cakrawala tertiup angin berlari pergi
hingga hujan hatimu reda menampakkan rona berseri

kawan...hari esokmu masih panjang
jalan sucimu penuh dengan aral melintang
sementara jerit umatmu terngiang-ngiang
dan panji2 sunahmu tergeletak di simpang malang

tak usah, tak usah engkau bimbang bersedih
berjalan tegarlah meski berat tertatih-tatih
trus bersabar berpikir jernih
berprasangka baik dalam hati selalu bersih

percayalah, sepenggal episode ini akan berganti
seperti embun yang tersibak mentari pagi
bunga2 cinta akan mekar berwarna-warni
menghibur hati meneguhkan semangat diri

bergerak sahabat jangan gelisah
hari esokmu penuh dengan lukisan cerah
dinanti rindu bersama ribuan ummah
tahan derita dengan kesabaran yg selalu merekah

usaplah sahabat bening di sudut matamu
kefuturan ini hanyalah kembang rindu
akan berlalu tersibak silirnya bayu
di ujung hari di batas waktu yg tlah tertentu

jangan, jangan terlarut dalam impian kosong
dibisik jiwa dihias setan pembohong
berlindung selalu kepada yg maha penolong
niscaya hidupmu takkan terjatuh dalamnya lorong

sapulah kabutmu yg sendu itu
dengan cinta suci yg menawan di dalam kalbu
berlapang dada bermuhasabah selalu
terima nasehat jangan lupakan doa tuk ibu

ingat sahabat akan janji dan amanat
didalam diri saat haru indah tersemat
jangan nodai putihnya janji yg telah terikat
kuatkan hati dengan doa ikhlas terpanjat

sahabat........
hancurkanlah kemalasan yang tinggi menggumpal
berbesar hati hindari berfikir dangkal

tahanlah lisanmu sahabatku untuk tidak selalu berkeluh
jaga hati dari sifat selalu gemuruh
ambillah quran dan peganglah kuat teguh
tadaburi dan amalkan jangan pernah merasa jenuh

bangunlah malam meski mata terasa berat
ambil wudhu dan segera berburu sholat
khusyukkan diri dengan segenap hati ikhlas munajat
mohonlah ampun atas hati yg tebal berkarat

tundukkan sahabat, tundukkan dirimu di hening sepi
lantunkan sekuntum doa tuk memohon kestabatan diri
adukan semua kelemahan diri pd ilahi
dan biarkan airmatamu hangat menetes di pipi

nikmatkan dirimu dalam tahajud
suguhkan doamu di hening sujud
pengobat hati disaat jumud
menjemput hari esokmu indah terajut

begitulah pengobat futur
mendekat Alloh obat yg manjur
tak ada jalan didalam fujur
melainkan dirinya kan remuk hancur


Senin, 23 Februari 2009

Tekad

Mereka bersikap lembut padaku, namun aku keras
Mereka keras dengan kematian, kubalas dengan lembut hingga aku merasa
Mereka menaikan ku dalam kendaraan, namun aku turun dan menaiki tekad ku
Mereka turunkan aku, lalu aku naik kebenaran yang sama
Ku usir kematian di depanku lalu dia berpaling
Dan aku lewati kematian sedang terkantuk-kantuk
Pasir-pasir telah menangisi kesendirianya dan berkata
“Hai anak manusia, Jangan takut dan jangan putus asa ! “
Ku katakan tak takut, sebab keyakinanku masih sangat belia
Aku tak kan mati hingga aku di injak
Aku telah berjanji pada sahabat dan teman karib
Dan aku belajar dari cita-citanya…

Masa muda, uban, kebutuhan dan kekayaan
Semua ini adalah milik Allah, maka kenapa engkau masih ragu?
Jika engkau pergi dengan tidak membawa ketaqwaan
Dan berjumpa dengan orang-orang yang telah membekali diri
Kau akan menyesal, mengapa engkau tidak seperti dia
Dan jika engkau tidak siap, maka dia tetap siap




Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah rasa putus asa

Dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan

Siapa yang berbaik sangka pada pemilik `Arasy, dia akan memetik

Manisnya buah yang dipetik di tengah-tengah pohon berduri

Sabtu, 21 Februari 2009

Gejolak


Ruang ini begitu putih untuk resahku yang bergelayut
Bukan sebuah altar, bukan pula warna pelangi
Disana ada sungai yang mengalir menuju rambut
Yang membelit jemariku…
Kusaksikan, hujan singgah sesaat di ujung kelambu
Sepotong jantung berdenyut menyajikan aroma
Obat dan kecemasan…
Sebentar lagi masa lalu akan berakhir disini!

Pada kepak burung layang-layang mataku tercekat
Inikah pengembaraan terpanjang, pada mulanya
Jalan hanyalah ruang kosong, tanpa anggur, tanpa desahmu
Batu-batu menyumbat sunyi…
Memaknai belantara, dan bercakap-cakap dengan
Mimpi-mimpi yang tergolek dalam tidurku
Sementara kemarau menebar garis-garis penat.

Di pucuk-pucun cemara ku saksikan, sosok-sosok dalam wajahmu
Menjadi lembaran-lembaran garis cahaya.
Kutemukan dzikir dari gerak bibirmu..
Aku ingin memasuki gerbang yang terlukis itu,
Tapi anak-anak yang tertidur bersamamu,
Mati sebentar atau mungkin beberapa kali.

Hizzam
Blogged with the Flock Browser

Padamu Murabbi

Murobbi…
Dalam keterasingan ku di ujung jalan
Engkau datang dengan senyuman
Sepercik cahaya engkau suguhkan
Kau bimbing aku agar aku
tak jatuh lagi dalam kubangan

Mentari membuncah menerkam rasa
Dan dada tercabik oleh duri di dalam asa
Hingga nanar aku berlari..
Meradang dalam gemuruh api yang berkobar
Hampir saja ku muntahkan seluruh kobaranya
Dari dalam dadaku
Dan meluluh lantakkan apa yang ada.
Lagi-lagi engkau datang, dan menyuruhku bersabar
Engkau bagaikan angin sepoi yang meniup dedaunan
Tak perduli dirimu kering seperti musim
Demi panji Illahi tetap tegak berdiri
Hingga suatu masa yang tak pasti…


Hizzam

Lakukanlah amal sesuai kemampuanmu, karma sesungguhnya Allah tidak merasa bosan, hingga kamu sendiri merasa jenuh. Dan sesungguhnya amalan yang paling di cintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin walaupun sedikit. (Muttafaq `alaih)



Blogged with the Flock Browser

Ummy

Ummy…


Ummi…Betapa tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata

Cintaku…cinta mu…
Tak dapat dibeli dengan emas dan setumpuk permata
Bahkan Jabal Nur…atau mungkin himalaya.
Lambaian daun-daun serta tiupan semilir angin
Tak dapat mewakili…..karna kau embun,
Percikan api atau purnama rembulan malam,
Karna kau mentari yang tak pernah letih
Atau sungai-sungai dan mata air yang jernih,
Bahkan pasir-pasir di pantai atau di gurun Sahara…
Sedang engkau adalah lautan…yang dengan
Ombak mu…yang penuh cinta…kau sejukan jiwaku
Yang dengan dingin mu, kau padamkan api membara,
Yang dengan uap mu, kau payungi aku lalu
Kau teteskan rintik-rintik air yang segar.
Sungguh…kau adalah cahaya ketiga
Setelah Allah dan Rosulullah…

Ummi…Sungguh tak mungkin ku bayar cinta mu
Dengan ribuan gunung mutu manikam…
Karna itu takkan cukup.
Hanya sepotong do’a yang dapat kupersembahkan.
Semoga kita selalu bersama…
Dan aku dapat menjadi perisai mu
Di yaumul akhir…


Hizzam

Perumpamaan orang yang mengambil selain Allah sebagai pelindung adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuk dirinya sendiri. Tetapi sebenarnya rumah laba-laba itu serapuh-rapuhnya rumah jika mereka tahu. (Al-Ankabut : 41)


Blogged with the Flock Browser